LITERASIKU.ID – SIDOARJO, 3 SEPTEMBER 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjenguk para santri yang diduga korban keracunan di RSI Siti Hajar di Kabupaten Sidoarjo, Kamis (3/9).
Satu per satu, Gubernur Khofifah mengecek kondisi para pasien yang tengah menjalani perawatan. Lewat dialog tersebut, ia memastikan para korban mendapatkan penanganan terbaik.
Kepada seluruh korban baik yang mendapatkan perawatan di rumah sakit, fasilitas kesehatan lainnya maupun di pesantren Gubernur mendoakan agar semua kembali sehat. Dan kepada pihak-pihak yang telah memberikan perawatan para korban, Gubernur Khofifah menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya.
“Anak-anak yang dirawat juga mudah-mudahan terus sehat, semua rumah sakit yang memberikan penanganan kami menyampaikan terima kasih,” ucapnya.
Lebih lanjut Gubernur Khofifah mengajak semua pihak untuk terus berbenah dalam implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ditegaskannya, program inisiasi Presiden Prabowo Subianto tersebut sejatinya memiliki tujuan yang sangat strategis untuk memperbaiki kualitas gizi generasi penerus bangsa melalui penyediaan makanan bergizi pada siswa dan juga santri.
“Jadi memang kita harus terus berbenah, semua lini harus melakukan monitoring dan pengawasan sekaligus merekomendasikan tidak hanya kepada BGN tetapi juga kepada SPPG setempat,” kata Gubernur Khofifah.
Ia menyampaikan dalam implementasinya, program prioritas nasional ini memang membutuhkan pengelolaan manajemen dan pengawasan yang cermat. Mulai dari bahan makanan yang digunakan hingga tersaji kepada penerima manfaat.
Pemilihan bahan makanan, pengolahan, distribusi hingga tersaji pada penerima manfaat harus dilakukan perhitungan yang tepat agar makanan tetap dalam kondisi yang aman dan sehat saat dikonsumsi.
“Ini kasusnya dimasak bersama dengan format yang sama. Yang pengirimannya relatif lebih awal itu aman. Tapi yang pengirimannya terlambat ini yang kemudian menjadikan masalah,” ungkapnya.
Perbedaan waktu distribusi bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya masalah. Hal ini karena setiap makanan yang dimasak juga memiliki batas waktu konsumsi yang aman.
“Bedanya adalah pada masa pengiriman dari SPPG itu ke titik penerima manfaat, jadi kalau selesai dimasak jam 5 kemudian jam 7 diantar jam 10 sudah bisa dimanfaatkan oleh penerima manfaat ini semua aman,” katanya.
Gubernur Khofifah juga menuturkan korban yang diduga keracunan ini mendapatkan suplai makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama yaitu dari SPPG Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
SPPG tersebut menyalurkannya ke 18 unit penerima manfaat salah satunya ke santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam Sidoarjo.
“Saya tanya ada Kadinkes, ada Kakankemenag yang mendapatkan manfaat dari SPPG yang sama itu ada 18 unit, dari 18 unit yang lain relatif semua berjalan baik,” terangnya.
“Tapi kemudian adabyang dikirimnya baru jam 11 atau jam 11 lebih, dan dikonsumsi jam 12.30 sampai jam 1 inilah yang kemudian ditemukan ada masalah,” imbuhnya.
Diketahui di RSI Siti Hajar Kabupaten Sidoarjo saat ini, Kamis (3/8) terdapat 27 pasien yang sedang dalam perawatan. Dari 27 pasien tersebut 24 diantaranya dinyatakan sehat dan dapat kembali pulang hari ini, sementara 3 pasien sisanya masih dalam observasi dari dokter dan pihak rumah sakit. Jika sore ini sudah baik maka semua bisa pulang hari ini.
“Dari 27 itu, 24 insyaallah _clear_ pagi ini bisa pulang, yang 3 nunggu observasi lagi, tapi mudah-mudahan sore juga bisa pulang jadi Insya Allah mereka sudah dalam kondisi baik,” ungkapnya.
Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa pasien yang dirawat di RSI Siti Hajar mengaku mengalami mual dan pusing. Mereka baru diperbolehkan meninggalkan rumah sakit apabila keluhan tersebut sudah tidak rasakan oleh pasien.
“Saya tanya kepada pasien mual dan pusing sudah tidak ada tapi yang Insya Allah sudah clear bisa pulang pagi ini 24 dari 27 pasien,” tegasnya.
Sebelumnya pada Selasa (1/9)sebanyak 664 korban diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Korban terbanyak dari Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam Sidoarjo.
Selain Ponpes Manba’ul Hikam, terdapat 18 lembaga pendidikan lain di hari yang sama yakni sejak Selasa (1/9) sore. Sejumlah satuan pendidikan lain mengalami kejadian serupa dan seluruhnya memiliki kesamaan yakni menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, pada Selasa (1/9).
Per tgl 02 September 2026 Jam 22.00 WIB diperoleh data total 664 pasien korban yang mendapatkan perawatan medis baik di rumah sakit, fasilitas kesehatan lainnya dan di pesantren.
Dari jumlah itu sebanyak 77 pasien diantaranya sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit, 581 pasien rawat jalan, dan 6 pasien dalam observasi.
Keseluruhan korban mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan antara lain RSUD N.T. Notopuro, RS Delta Surya, RS Siti Hajar, RS Pusura, RSU Aisyiyah St Fatimah, RS Pusdik Bhayangkara, RS Arafah Anwar Medika, RS Anwar Medika, RS Assakinah Medika, PKM Porong, RS Rahman Rahim, Puskesmas Tanggulangin, Bidan Praktik Mandiri, Dokter Praktik Mandiri, dan pengobatan di Pesantren.
Sementara itu Priani (43) Ibu dari salah satu pasien atas nama Muhammad Zaidan Maulana kelas XII Madrasah Aliyah menyampaikan terima kasih dan bahagia atas perhatian yang diberikan Gubernur Khofifah kepada putranya. Ia berharap kejadian ini menjadi yang terakhir dan tidak terjadi kembali.
“Alhamdulillaah saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Gubernur Khofifah atas perhatiannya terhadap anak-anak yang tertimpa musibah, senanglah kami dapat perhatian dari pemimpin Jawa Timur, mudah-mudahan jangan terulang lagi, ini yang terakhir,” ucapnya. (ISK)



